Penderitaan Datang Bukan Latah Menghakimi Allah

by samuelyasa


“Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku”.      Ayub38:2-3                                                                                          

Ayub adalah kekasih dan putra kebanggaan Allah! Fakta ini pernah diungkapkan Allah kepada Iblis, “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (Ayub 1:8). Namun perhatikan hamba kekasih serta kebanggaan Allah itu dalam bagian pasal selanjutnya mengalami kondisi hidup tertekan, kesakitan, dan menderita teramat sangat!Tentunya setiap kita dalam kondisi yang sama seperti yang dialami Ayub memiliki pengharapan yang sama tentang Tuhan serta berkata, “Ah, sekiranya saja Tuhan mau datang, dan bersedia menjelaskan apa sebab musabab semua penderitaan ini!” Dengan pengharapan bahwa Allah akan datang melawat dengan kalimat-kalimat yang menghibur meneguhkan, dengan sikap hangat dan lembut kebapaan, dan dengan senyum yang menyalakan kembali harapan yang nyaris padam. Kutipan ayat di atas memberikan gambaran lain tentang respon Allah tentang penderitaan hamba-Nya. Allah datang membombardirnya dengan daftar pertanyaan yang panjang. Bukan membawa jawaban!Tuhan seakan-akan tak peduli sedikit pun akan 35 pasal yang sarat dengan perdebatan dan kontroversi yang panas, yang sampai pada akhirnya tetap menyisakan pertanyaan-pertanyaan penting yang tak terjawab.Apa sih yang sebenarnya Allah inginkan dari Ayub? Alkitab ingin memperlihatkan betapa Allah amat serius dengan apa yang Ia nyatakan. Bahwa isu kesakitan dan penderitaan bukanlah isu enteng, yang cukup dijawab dengan luapan -luapan spontan semata. Allah menuntut sikap yang benar dan tepat – bukan teori!Bahwa selama manusia hamper-hampir tidak tahu apa-apa tentang bekerjanya alam semesta termasuk pada hal-hal yang kelihatannya mudah dipahami seperti matahari terbit, angin dan topan, singa dan kambing, maka janganlah manusia berlagak menjadi penentu benar dan tidaknya Allah. Belajar dari kisah Ayub ini sesungguhnya Allah sedang mengajarkan kepada kita bentuk keberserahan total kepada apapun yang tengah diperbuat Allah. Janganlah pernah terpikir di benak kita, untuk duduk di kursi hakim, lalu mengadili Allah, karena apa yang Ia lakukan sehubungan dengan kesakitan dan penderitaan manusia termasuk penderitaan yang kita alami sekalipun.(ant)

 

DOA: Bapa ampuni bilamana mulut bibirku pernah menyalahkan-Mu atas penderitaan yang pernah kualami.