Penderitaan sebagai Didikan TUHAN

by samuelyasa


Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.”                                                Kejadian 41:51

 

Siapa tidak kenal dengan bunda Teresa, seorang wanita yang memberikan hatinya untuk melayani masyarakat miskin di India.Dilahirkan di Skopje, Albania, 26 Agustus 1910, ia adalah anak bungsu dari pasangan Nikola dan Drane Bojaxhiu.  Ketika berusia delapan tahun, ayahnya meninggal dunia, dan meninggalkan keluarganya dengan kesulitan finansial. Meskipun hidup dalam kemiskinan itu tidak mengurangi semangatnya mengikuti pelayanan. Pada usia tujuh belas, ia merespons panggilan Tuhan untuk menjadi biarawati misionaris Katolik, yang akhirnya mengantarnya untuk menjadi kepala sekolah St. Mary. Namun demikian karena kesehatannya memburuk akibat TBC, membuat ia tidak bisa lagi mengajar. Bahkan untuk memulihkan kesehatannya, ia pun dikirim ke Darjeeling. Akan tetapi penyakit yang dideritanya tidak mematahkan semangatnya untuk terus melayani, dalam perjalanan ke Darjeeling itulah ia mendapatkan sebuah visi bagaimana Kristus menyatakan kepedihan kaum miskin yang ditolak, bagaimana Kristus menangisi mereka yang menolak Dia, bagaimana Ia ingin mereka mengasihi-Nya.TBC tidak membuatnya menyerah dan mengasihani diri, melainkan justru memberikan perhatiannya kepada mereka yang papa, miskin, terlantar dan terusir dari masyarakat.Jauh sebelum bunda Teresa lahir, Yusuf adalah juga tokoh yang tidak pernah menyerah pada penderitaan.Sebelum menjadi pemimpin di Mesir, Yusuf menerima pendidikan yang sangat keras dari Tuhan Allah. Sejak kecil ia sudah menjadi anak yang dikucilkan diantara saudara-saudaranya. Dalam kesendirianya ia pernah dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya sendiri. Dijual sebagai budak di negeri orang. Bahkan di fitnah dengan kejam, di masukkan ke dalam penjara. Tanpa suatu kesalahan apa-apa. Betapa sakit hatinya. Betapa ia begitu menderita. Tak ada yang menolongnya. Tak ada yang berbelas kasihan kepadanya. Ia berada di negeri orang.Namun penderitaan dan kesengsaraan yang dialaminya, telah menempa dan membentuk Yusuf sebagai seorang pemimpin besar yang bijaksana. Mengapa Yusuf dan Bunda Teresa sanggup menjalani penderitaan? Karena sesungguhnya Allah menghapus ingatan akan semua penderitaan pada masa lalunya.Mungkin kita mengalami penderitaan dan kesengsaraan yang kurang lebih sama. Persoalan demi persoalan silih berganti. Janganlah menjadi kecil hati. Sesungguhnya semakin besar penderitaan itu, semakin tinggi didikan yang diajarkan Tuhan.Penderitaan, kesengsaraan dan kesusahan adalah cara Allah menempa hati kita. Agar dirikita siap menerima kepercayaan besar dari Allah. (ant)

 

DOA: Bapa ku yakin tiap penderitaan adalah persiapan untuk menerima tanggung jawab besar dari-Mu.