ROH KUDUS VS ROH SETAN (PEPERANGAN ROHANI)

by samuelyasa


“Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu.”

(Mrk. 3:27)

Salah satu hal utama yang ditekankan dalam Injil Markus ialah hasrat Yesus untuk mengalahkan Iblis dan kuasa roh jahat. Dalam Markus 3:22-30 ini ahli-ahli Taurat menyerang Tuhan Yesus dengan memberikan tuduhan bahwa Yesus mengusir iblih dengan kuasa Beelzebul. Menaggapi tuduhan ini Yesus memberikan sebuah jawaban yang tepat dan masuk akal, yaitu bahwa iblis begitu cerdik sehingga tidak akan pernah secara sukarela meninggalkan miliknya, jika iblis mengusir iblis maka kerajaannya akan terpecah belah dan tidak akan dapat bertahan (ay. 24). Lebih lagi Yesus memberikan sebuah perumpamaan di ayat 27.

Hasrat Yesus untuk mengalahkan kuasa Iblis—dengan kuasa illahi—diungkapkan sebagai “diikatnya dahulu orang kuat itu” (yaitu, Iblis) dan “merampok rumah itu” (yaitu, membebaskan mereka yang diperbudak oleh Iblis). Kuasa Allah yang mengatasi iblis ini nyata sekali dalam hal mengusir setan-setan atau roh-roh jahat. Menurut perumpamaan ini, peperangan rohani melawan Iblis meliputi tiga aspek:
1. Menyatakan perang terhadap Iblis sesuai dengan tujuan Allah (lih.
Luk 4:14-19)
2. Memasuki rumah Iblis (di manapun ia berkuasa), menyerang dan
menguasainya dengan doa dan pemberitaan Firman Allah serta
membinasakan senjata-senjata tipu daya dan godaan setan (bd.
Luk 11:20-22)
3. Merebut miliknya, yaitu, membebaskan mereka yang selama ini ditawan oleh kuasa Iblis dan memberi mereka kepada Allah supaya dapat menerima pengampunan dan pengudusan melalui iman kepada Kristus (Luk 11:22; Kis 26:18).

Biarlah sebagai anak-anak Tuhan kita juga memiliki semangat yang sama untuk berperang dan melawan kuasa iblis/setan. Peperangan melawan kuasa iblis ini merupakan suatu peperangan yang nyata dan seharusnya juga mendapat perhatian yang layak dari orang-orang percaya—sama seperti Yesus yang tidak mengabaikan pentingnya pelayanan ini di dalam masa kehidupan-Nya. Keengganan orang percaya untuk ‘berurusan’ atau bahkan sikap ‘alergi’ terhadap pelayanan ini justru memberikan celah kemenangan terhadap iblis. Dan