BERTANGGUNG JAWAB ATAS KARUNIA ROHANI

by samuelyasa


Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita–dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas… Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup. (Kis. 9:36-39)

Setiap orang percaya yang telah menerima karunia rohani, harus mempertanggungjawabkannya. Cara pertama adalah dengan mencari tahu apakah karunia yang telah diberikan bagi kita supaya kita kemudian kita bisa menggunakannya sebagaimana maksudnya. Di dalam bagian Alkitab ini ada seorang wanita yang sederhana bernama Dorkas. Nama yang dimilikinya sesuai dengan kehidupannya. Arti nama Dorkas adalah rusa, atau makhluk yang memiliki penampilan yang cantik. Amsal 5:19 menggambarkan wanita yang cantik dan lincah itu bagaikan seekor rusa. Nampaknya Dorkas memang memiliki kecantikan dan kelincahan itu. Kecantikannya mungkin bukan dalam fisiknya, kita tidak tahu karena Alkitab tidak mencatat hal yang nampaknya tidak penting ini. Tapi Alkitab mencatat tentang kecantikan hati Dorkas serta kelincahannya. Kematian Dorkas menimbulkan duka yang amat mendalam di hati begitu banyak janda di kota itu.

Dorkas bukan hanya memiliki hati yang penuh dengan belas kasihan, nampaknya ia juga memiliki karunia melayani. Paul Enns menggambarkan bahwa karunia melayani merupakan karunia untuk menolong orang percaya lain, terutama yang membutuhkan pertolongan secara fisik. Dorkas menolong janda-janda di sekitarnya dengan membuatkan mereka pakaian. Kelincahan jari-jari tangannya menghasilkan pakaian-pakaian yang bukan hanya menghangatkan tubuh janda-janda ini tetapi juga menghangatkan hati mereka dengan kasih sayang. Dorkas mungkin tidak memiliki karunia supranatural seperti misalnya mujizat atau kesembuhan, bukan pula karunia yang bisa dilihat oleh begitu banyak orang, seperti karunia mengajar atau berkhotbah; namun bagaimanapun ia tahu apa yang ia punya, dan ia menggunakannya untuk melayani. Dorkas telah mempertanggungjawabkan karunia yang dimilikinya, dan hal ini dirasakan oleh orang-orang yang telah dilayaninya. Saudaraku, adakah kita telah menggunakan karunia kita dengan bertanggung jawab sehingga kita bisa menjadi berkat bagi tubuh Kristus? Nix’z