TIME IS MONEY

by samuelyasa


Yoh. 4: 4, 7,” Ia harus melintasi daerah Samaria. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya:” Berilah Aku minum.”

Time is money, merupakan kata atau kalimat yang mungkin sering kita ungkapkan. Memang waktu itu sangat penting dan berharga. Karena itu orang terlalu sibuk untuk bekerja demi mempergunakan waktu sebaik-baiknya, sampai tidak ada waktu untuk istirahat. Bahkan ada orang Kristen yang tidak memperdulikan lagi akan kebutuhan kerohaniannya. Walaupun mereka mengerti apa yang diungkapkan oleh Tuhan Yesus, bahwa carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan bagimu.
Tidak demikian dengan Tuhan Yesus. Injil Yohanes menekankan bahwa Yesus harus melintasi daerah itu. Daerah mana? Daerah Samaria, daerah yang merupakan pantangan bagi orang Yahudi untuk dilewati. Untuk apa Dia melewati daerah itu? Ya, untuk bertemu dengan seorang perempuan Samaria. Perempuan, yang kalau kita mengikuti ceritanya, merupakan seorang perempuan yang tidak beres dalam kehidupannya. Tetapi, Yesus menyediakan waktu untuk berbicara kepadanya, untuk menyampaikan kabar baik itu. Walaupun di hari siang bolong yang panas terik. Ditengah-tengah keadaan Tuhan Yesus yang haus dan lapar. Ditengah-tengah pantangan seorang laki-laki tidak boleh berbicara dengan seorang wanita ditempat umum. Yesus berbicara kepadanya. Memang pemberitaan Yesus tidak sia-sia, perempuan ini percaya, bahkan banyak orang dari kampung halamannya percaya kepada Tuhan Yesus.
Bagaimana dengan orang Kristen? Bagaimana dengan gereja? Orang Kristen lebih sibuk dengan pekerjaannya. “Pak, jangankan terpikir hal lain, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari aja, sangat sulit pak, jaman susah, pak,” demikianlah kata seorang jemaat di sebuah gereja. Gereja? Lebih sibuk dengan tetebengek di dalam gereja itu sendiri. Rapat, latihan dan segudang persiapan pelayanan lainya. Kapan ada waktu untuk menjangkau jiwa-jiwa ? wah, itu susah.
Dengan demikian, pertumbuhan gereja sangat lambat. Lebih banyak pertumbuhan gereja tertentu hanya dari kelahiran saja. Dari pertobatan jiwa-jiwa baru karena pemberitaan Injil sangat sedikit.
Saudara, Tuhan Yesus telah memberi teladan. Jiwa manusia begitu berharga bagi-Nya, bahkan karena hal itu, Ia rela mati. Bagaimana kita dengan gereja kita? Rela mengorbankan sesuatu demi jiwa itu???