KASIH TIDAK HANYA KATA, TAPI PERBUATAN

by samuelyasa


Mat. 26: 33,” Petrus menjawab-Nya: Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak….”

Menurut beberapa penafsir, Petrus adalah seorang yang cepat bereaksi, tanpa lebih dahulu berpikir. Seorang yang cepat berkata-kata, tetapi tanpa bijaksana. Orang yang seperti ini, sering tidak memikirkan resiko dibalik apa yang dikatakannya. Sehingga apa yang dikatakan sering tidak terwujud dalam realita perbuatan. Hanya sebatas kata. Bagian firman Tuhan yang menjadi bahan bacaan kita hari ini, mengungkapkan akan hal itu.
Ketika Tuhan Yesus sedang bergumul menghadapi penderitaan yang sangat mengerikan itu, Ia membawa tiga orang murid-Nya untuk berdoa di taman Getsemani. Ketika Ia mau berdoa, Ia meminta mereka agar berjaga-jaga dengan Dia. Tetapi setelah selesai berdoa, ternyata murid yang tiga orang ini semuanya tertidur, termasuk Petrus.
Setelah Tuhan Yesus ditangkap, Ia dibawa dihadapan sidang Mahkamah Agama. Ketika Tuhan Yesus sedang di adili, seorang wanita yang adalah hamba Imam Besar menanyakan Petrus, apakah ia termasuk di antara pengikut Yesus. Ternyata Petrus tidak mengakuinya. Beberapa penafsir mengatakan bahwa Petrus tidak mengakui karena takut juga di adili seperti Tuhan Yesus. Bahkan, pada ketiga kali penyangkalannya, ia mengakui bahwa ia tidak mengenal Tuhan Yesus. Pengakuan yang sangat berani dan sangat kontras dengan apa yang dijanjikannya kepada gurunya dibagian firman Tuhan yang kita baca tadi.
Pengalaman Petrus menyangkal Tuhan, mungkin menjadi bagian dari pengalaman kita selama mengikut Tuhan. Berulangkali kita berkomitmen untuk mengasihi Tuhan dalam berbagai aspek kehidupan kita. Tapi, kenyataannya kita sering mengingkarinya. Itu menandakan bahwa kasih kita kepada Tuhan, sering sebatas kata-kata saja.
Puji Tuhan, kita memiliki Allah yang penuh kasih. Yang terus memberi kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri. Di dalam Injil Yohanes 21: 15-19, Tuhan Yesus memberi kesempatan kepada Petrus untuk membangun komitmen mengikut serta melayani Tuhan. Kesempatan itu tidak disia-siakan Petrus. Menurut tradisi gereja, Petrus mati disalibkan
dengan kepala dibawah. Tuhan memberi kesempatan kesempatan yang sama kepada kita. Bagaimana saya dan saudara meresponinya???
Mungkin kesempatan yang diberikan hanya sekali saja.