THE REAL LOVE

by samuelyasa


Yoh. 3: 16,” Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…”

Sekelompok anak muda yang menamakan diri “Ketupat Agape” (Kelompok Tukar Pendapat Agape) berkumpul bersama disebuah kolam renang sambil makan-makan dan berdiskusi. Topik diskusi sesuai dengan nama kelompoknya yaitu tentang Agape. Si A memulai percakapan dengan menanyakan apa itu definisi kasih Agape. Si B mencoba menjawab dengan mengatakan bahwa kasih adalah sebuah kata benda yang perlu dijelaskan secara fertikal. Si C meramaikan diskusi dengan mempersoalkan apakah perlu menjabarkan kasih secara fertikal dan horizontal atau sirkular dll. Si D menambahkan:”Bagi saya kasih itu yang penting bertujuan baik, lepas dari caranya bagaimana, definisinya apa, yang penting untuk kebaikan. Si E tidak mau kalah. Dia menangkis:” Lho, kebaikan itu kan relatif dan subjektif. Ukurannya apa dong?”
Sedang asyik-asyiknya mereka berdiskusi, tiba-tiba seorang anak kecil yang kira-kira berumur 4 tahun terjatuh ke dalam kolam renang. Tangannya menggapai-gapai sambil mulutnya mulai minum air. Si A berteriak:” Hei, anak siapa itu?” Si B menyahut:” Siapa yang pintar berenang?” Si C ikut berdiri namun hanya berteriak:” Panggil orang tuanya dong!”. “Gawat, dia mulai tenggelam!” kata si D sambil menunjuk kepada anak itu. Tiba-tiba,” Byuuuurrrr!”. Salah seorang anggota Ketupat melompat ke dalam kolam dan menolong anak itu serta membawanya ke pinggir kolam. Selamatlah dia dari ancaman maut.
“Wow, siapa itu yang menolong?”, tanya si E antusias. Ternyata dia bernama Agapao, anggota ketupat yang sejak tadi belum bersuara dalam diskusi, namun telah mempraktekkan kasih secara rill. Kasih itu sebenarnya kata kerja yang aktif dan dinamis. Bukan kata benda yang pasif dan mati. Alkitab menyaksikan bahwa kasih Allah menjadi nyata ketika Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, agar setiap orang percaya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Anak-Nya itu bukan hanya datang ke dunia saja, tetapi mati diatas kayu salib untuk menggantikan kita, agar kita tidak mengalami kematian yang kekal itu.
Demikian setiap orang kepunyaan Allah juga diperintahkan untuk mengasihi dengan kasih yang sudah diterima dari Allah. Yakni, kasih yang aktif, dinamis, yang rela memberi, bahkan berani berkorban, berani mengambil resiko, berani membayar harga yang mahal. Saudara, engkau mengasihi Allah dan sesama (jiwa-jiwa yang tersesat) ? Beritakanlah injil