TRUE LOVE, BUKAN EMOSIONAL BELAKA

by samuelyasa


(Yohanes 21:15-17)
Peristiwa yang tercatat dalam Yohanes 21 ini menjadi salah satu point penting dalam kehidupan Petrus, terutama setelah penyangkalannya terhadap Yesus di malam sebelum penyaliban. Suatu hal yang unik ketika di dalam percakapan ini terdapat beberapa persamaan dengan peristiwa penyangkalan Petrus pada pasal 18, di antaranya ada kesamaan setting waktu (dini hari, 18:28; 21:4 “NIV “early in the morning”), kesamaan setting tempat (di depan api unggun; 18:18; 21:9), kesamaan tema (mengikut Yesus, 13:36-38; 21:19, 22) dan kesamaan jumlah penyangkalan & pertanyaan (3 kali; 18:17, 25-27; 21:15-17). Adanya kesamaan-kesamaan ini semakin menegaskan indikasi bahwa apa yang Yesus lakukan dalam pasal ini terkait erat dengan pemulihan diri Petrus setelah dia gagal dan jatuh dalam mengikut Yesus.
Percakapan ini mengandung sebuah pertanyaan terpenting yang pernah dihadapi Petrus yaitu apakah ia mempunyai kasih yang mengabdi bagi Tuhan-Nya. Dua kata Yunani dipakai di sini untuk “kasih” yaitu “agapao” dan “phileo” (percakapan asli terjadi dalam bahasa Aram, penulis sendiri tidak membuat perbedaan yang mencolok di antara kedua kata ini karena kata “phileo” juga seringkali dikenakan untuk menunjuk pada kasih Allah pada umat-Nya, Yoh. 11:36, 16:27, 20:2, dll). Yesus bertanya sampai 3 kali kepada Petrus, “apakah engkau mengasihi Aku?”. Lebih dari sekedar ‘penyamaan’ dengan jumlah penyangkalan Petrus, di sini Yesus menantikan sebuah jawaban yang sungguh-sungguh dari Petrus. Yesus tidak menginginkan jawaban yang spontan yang keluar dari sisi emosional belaka. Ia mencari sebuah pernyataan kasih yang keluar dari hati dan kehendak yang matang. Inilah yang Yesus inginkan, sehingga Dia bertanya sekalipun Dia mengetahui hati orang (21:15b, 16b, 17b “Engkau tahu segala sesuatu”; jawaban Petrus terakhir tidak memakai “Benar Tuhan”).
Pertanyaan Yesus kepada Petrus adalah pertanyaan yang penting untuk semua orang percaya. Alangkah banyaknya orang Kristen yang setiap Minggu menyatakan diri sebagai kekasih Kristus namun hanya sebatas lips service dan ungkapan spontan belaka. Ketika pertanyaan yang sama ditujukan pada kita, seharusnya pernyataan kasih kita adalah pernyataan kasih pribadi yang sungguh-sungguh keluar dari hati bagi Yesus dan pengabdian kepada-Nya. Pernyataan kasih yang bukan sekedar pernyataan emosional yang spontan keluar dari mulut kita hanya dikarenakan kita telah dikenal sebagai orang ‘Kristen’.
Dan