DIBENTUK KARENA KASIH

by samuelyasa


Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.

1 Yohanes 4:20
“Saya percaya sama Tuhan 100%, dan saya sungguh-sungguh mengasihi Dia”. Kalimat ini sering diucapkan oleh sebagian orang percaya. Tentu ucapan ini perlu pembuktian yang nyata. Karena jika mereka mengatakan mengasihi Allah sementara disisi lain mereka tidak mau mengasihi saudaranya yang jelas-jelas ada di depan mata mereka, mereka adalah pendusta. Bukankah mengasihi saudara kita adalah tanda bahwa kita mengenal dan mengasihi Allah? Allah adalah sumber kasih. Dialah kasih itu sendiri, tiada kasih di luar Diri-Nya. Berarti tidak ada yang memiliki kasih kecuali ia ada di dalam Dia dan sebaliknya seorang yang ada di dalam Dia pasti memiliki kasih.
Memang tidak mudah ketika kita harus mengasihi, apalagi mengasihi saudara yang telah menyakiti kita. Semuanya butuh proses yang panjang. Kekecewaan yang kita miliki seolah mengakar dalam hati kita, tetapi ketika kasih Allah ada di dalam kita, maka ini adalah sebuah pembentukan bagi karakter dan kepribadian kita untuk kita belajar mengasihi. Mengasihi tidak harus memerlukan biaya, tetapi memerlukan waktu dan tenaga. Terkadang dibutuhkan waktu yang lama, pengorbanan yang besar. Dibutuhkan pengorbanan untuk mengasihi sesama.
Tuhan Yesus terlebih dahulu telah berkorban untuk kita, karena kasihnya yang besar pada kita (lihat Yohanes 3:16). Bahkan sampai mati di kayu salib, demi kasihnya pada kita. Kasih ilahi inilah yang membentuk pola kasih orang-orang percaya. Kasih orang percaya akan terbentuk secara progresif menuju kasih yang sempurna, yaitu kasih Kristus bagi dunia ini.

Renungkan:
Apabila kita menunjukkan kasih Allah tanpa syarat dan penuh pengorbanan, kasih itu akan membuka pintu hati orang yang tersesat kepada kebenaran Injil, yaitu kabar baik dari sorga.
Siti