Sekilas Edisi Gembala di Bulan Mei 2012

by samuelyasa


Jemaat Allah yang terkasih,

Dalam edisi Mei saya ingin mengajak anda untuk mengenal 2 (dua) bagian penting yang TUHAN letakkan dalam diri manusia. Pertama, adalah salah satu kunci kemampuan manusia untuk mengembangkan dirinya, yakni kemampuan untuk berpikir, membangun ide, mempertimbangkan dan mengambil keputusan (atau hal-hal yang berkenaan dengan dunia pikir). Itulah sebabnya manusia disebut sebagai makluk RASIONAL. Kedua, manusia diciptakan sebagai makluk RELASIONAL, yang artinya manusia tidak pernah mengalami atau mencapai kemandirian mutlak tanpa keterkaitan dengan unsur lain.
Kita yang hidup di dunia timur memiliki pola berpikir RELASIONAL yang sangat kuat. Manusia dan keberadaannya selalu dikaitkan dengan apa saja. Beberapa konsep meletakkan manusia terkait dengan TUHAN, sesamanya dan lingkungannya, sementara ada yang meletakkan manusia dalam keterkaitannya dengan cara berpikirnya, cara berbicaranya, cara berprilakunya, atau segala “produk” yg keluar dari diri manusia.
Sadar tidak sadar, kedua hal ini memegang peranan penting. Semua yang RASIONAL dituntut untuk saling berelasi, sebaliknya yang tidak RELASIONAL dianggap tidak logis, tidak masuk akal atau tidak RASIONAL. Hukum RASIONAL dapat diterima ketika memiliki factor RELASIONAL.
Saya ingin mengingatkan kita sekalian, bahwa kekristenan masih berada dalam dunia RASIONAL dan RELASIONAL. Dalam hal pengajaran, dunia menuntut kekristenan menampilkan hal-hal yang logis dan masuk akal. Itulah sebabnya mereka sulit (tidak) menerima hal-hal yang supra rasio yang bisa diterima sebagai kebenaran oleh karena iman, karena bagi mereka adalah kontra rasio. Sementara di sisi lain, iman Kristen terus dipantau dan dievaluasi dalam hukum RELASIONAL, artinya ketika bicara tentang iman Kristen maka sedang dinantikan relasinya dalam hidup ini, yang meyakinkan dunia bahwa iman Kristen itu ADA.
Yakobus 2:18b – “dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” Saya ingin mengajak jemaat merenungkan ayat di atas dgn kerangka RASIONAL dan RELASIONAL. Bagaimana seharusnya kita menyatakan iman kita kepada orang lain, khususnya mereka yg belum percaya? Hubungan (relasi) apa yang mereka perhatikan tentang anda dan iman anda? Tahukah kita bahwa iman yang RELASIONAL lebih RASIONAL (berbicara banyak) ketimbang iman yang “RASIONAL” namun tidak ber-RELASI dgn kehidupan.
Selamat membaca, merenungkan dan Tuhan memberkati.