KEMARAHAN, KEBENCIAN atau PENUH KASIH?

by samuelyasa


22:61 Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.”

Lukas

Sejak kanak-kanak saya mengenal bahasa komunikasi orangtua saya melalui sorotan matanya, khususnya di tengah-2 situasi ketika berkumpul dengan orang lain. Mereka akan mengerutkan area sekitar mata untuk menyatakan ketidak setujuannya atas sikap & tindakan yang saya lakukan. Mata akan “dibelalakan” (pelotot) untuk menunjukkan amarahnya.
Saya yakin hal demikian juga menjadi pengalaman kita sekalian. Kita memahami bahasa komunikasi melalui sorotan mata. Ada kerlingan mata yang ditangkap sebagai “godaan” karena ketertarikan khususnya terhadap lawan jenis. Ada sorotan dengan menyipitkan mata dan sedikit melirik yang diartikan sebagai sikap sinis atau mengejek (meremehkan) orang lain. Ketika bola mata diarahkan ke atas dan disertai perubahan bentuk bibir ditangkap sebagai hinaan terhadap orang lain.
Seorang rekan alumni seminari Alkitab yang cukup senior pernah men-sharing-an tentang seorang dosen yang memiliki waktu terbatas dengan keluarganya mengingat kepercayaan pelayanan yang cukup padat. Pada waktu acara makan siang bersama dg dosen-2, si alumni ini memperhatikan sorotan mata sang dosen yang diarahkan kepada istrinya yang sedang duduk dg para mahasiswi. Sorotan mata yang penuh rasa cinta, penuh rasa kasih dan mereka saling bertatapan menyalurkan “energy” kasih. Kesimpulan sederhana yg dibuat oleh sang alumni ini bahwa sorotan mata cukup untuk menyatakan perasaan hati.
Ketika Tuhan berpaling memandang Petrus, makna pandangan seperti apakah yang kira-kira ditangkap oleh Petrus sehingga ia teringat perkataan Tuhan? Apakah Tuhan memandang penuh amarah karena Petrus menyangkali hubungan di antara mereka? Apakah pandangan penuh sinis karena Petrus tidak bersikap sebagaimana sesumbarnya? Atau pandangan kebencian karena Petrus telah menyangkal sebanyak 3 (tiga) kali, yang artinya ada kesempatan untuk mengoreksi penyangkalannya. Atau justru pandangan penuh kasih, sekalipun mengonfirmasikan penyangkalan Petrus tetapi juga memberi peluang untuk dipulihkan di kemudian hari? jp