MENGALAMI KELEMAHAN MANUSIA

by samuelyasa


Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

Ibrani 4:15

Pertanyaan, “Mengapa Tuhan harus repot-repot menjadi manusia?” sering kali muncul. Ayat di atas menunjukkan bahwa Yesus Sang Imam Besar itu (ay. 14) turut merasakan kelemahan-kelemahan manusia. Ia memiliki daging dan darah, tubuh jasmani dan menghidupi kehidupan manusia biasa. Ia mengalami hidup dalam kemiskinan, Ia mengalami kesakitan fisik, Ia mengalami bagaimana rasanya ditolak. Ia mengalami seluruh kelemahan dan penderitaan manusia secara fisik dan mental, termasuk mengalami pencobaan untuk jatuh ke dalam dosa. Hanya satu hal saja yang membedakan Yesus dengan manusia lainnya, yaitu Ia sama sekali tidak berdosa. Ia tahu tujuannya ke dalam dunia adalah untuk taat menggenapkan rencana Allah Bapa.
Maka jelas sekali bahwa Tuhan bersimpati kepada manusia yang lemah. Ia sangat mengetahui kondisi manusia karena Ia sendiri mengalaminya. Semasa hidup-Nya di dunia Ia sering berkumpul dengan orang-orang berdosa, orang-orang yang diasingkan oleh masyarakat (contonya pada peristiwa Zakheus).
Di sisi lain Tuhan Yesus berhasil mengalahkan segala godaan dosa yang mau menggagalkan misi ketaatan-Nya kepada Allah Bapa, sehingga Ia menjadi teladan bagi kita untuk hidup taat kepada Allah Bapa dan hidup mengalahkan dosa. Bukan saja menjadi teladan, tetapi melalui Roh Kudus Ia memampukan kita untuk hidup taat kepada Allah Bapa. Tuhan rela menjadi manusia mengalami berbagai pergumulan manusia untuk menunjukkan kemenangan-Nya atas kuasa dosa dan memampukan kita untuk hidup taat kepada Allah Bapa.

Yesus Sobat kaum berdosa, Ia-lah Tuhan Pengasih;
Kawan set’ru melawanku, Ia tetap menjagaku.
Yesus kekuatan yang ajaib, Ia jadi Pelindungku;
‘Ku jatuh dalam cobaan, sandar Dia ‘ku menanglah.
(KPPK 181)