KEPADA-NYALAH AKU BERDOSA

by samuelyasa


Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

(Mzm. 51:6)

“Ah, tidak apa-apa, toh tidak ada yang dirugikan.”Pernahkah kita mendengar kalimat semacam ini? Kalimat ini seakan menjadi pembenaran diri untuk melakukan sesuatu sejauh hal itu tidak merugikan orang lain. Seringkali manusia membenarkan suatu perbuatan dosa dengan melakukan penilaian seperti ini.
Satu hal yang harus kita sadari adalah bahwa ketika kita melakukan dosa, terlepas dari apakah ada orang lain yang dirugikan atau tidak, kita sedang berdosa kepada Allah, kita sedang “meleset” dari apa maunya Allah, kita sedang “melanggar” atau “melawan” standar Allah.
Di dalam Alkitab versi bahasa Indonesia sehari-hari ayat di atas berbunyi, “Terhadap Engkau, terhadap Engkau saja aku berdosa, dan kulakukan apa yang Kauanggap jahat. Maka pantaslah Engkau menghukum aku, adillah keputusan-Mu.” Daud menyadari bahwa dosanya bukan semata-mata dosa yang dilakukan kepada orang lain, tetapi terutama dosa yang dilakukan kepada Allah. Kesadaran Daud ini juga disertai kerelaan untuk menerima penghukuman dari Allah.
Saudaraku, setiap dosa yang kita lakukan baik kita sadari ataupun tidak kita sadari, merupakan pelanggaran kepada Allah.Oleh karena kita melanggar, oleh karena itulah kita diampuni, sebab jika kita tidak melanggar kita maka kita tidak membutuhkan pengampunan.Kepada Allah-lah seharusnya kita mempertanggungjawabkan setiap pelanggaran kita.Pengampunan yang kita terima bukan berarti kita dilepaskan dari hukuman.Seperti yang telah sampaikan kemarin, bahwa di dalam pengampunan, Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup makin sempurna. Oleh sebab itu, aspek dari pengampunan tidak semata-mata dibebaskan dari kebersalahan, melainkan juga menanggung konsekuensi dan hukuman dari dosa tersebut, sebab dengan demikian kita akan belajar untuk menjadi lebih sempurna lagi.
Adakah kita memiliki keterbukaan di hadapan Tuhan, bukan semata-mata untuk menerima pengampunan dari pada-Nya, melainkan juga untuk menerima pendisiplinan yang akan membentuk karakter kita?
Nix’z