Kerendahhatian Untuk Menerima Pembenaran(Lukas 7:1-10)

by samuelyasa


Setelah melihat kebenaran firman Tuhan mengenai pembenaran Allah, saat ini mari kita melihat salah satu contoh yang ditunjukkan dalam kitab Injil ini. Secara manusia perwira dalam kisah ini adalah orang yang istimewa, karena memiliki berbagai kelebihan, baik yang menyangkut hal-hal materi, sosial maupun karakter. Dia memiliki posisi yang penting.Para perwira merupakan tulung punggung kekaisaran Romawi yang bertugas menjalankan disiplin dan melakukan berbagai perintah dari pusat.Dia juga sangat memperhatikan hambanya.Sikap perwira terhadap budaknya merupakan sesuatu yang sangat aneh menurut ukuran budaya waktu itu. Kelebihan lain yang dimiliki perwira ini terletak pada kesalehannya. Walaupun dia bukan orang Yahudi, tetapi dia sangat memperhatikan ibadat orang Yahudi.Sebagai gantinya, para tua-tua Yahudi juga sangat menghormati dia.Semua kelebihan yang dimiliki perwira di atas ternyata tidak membuat dia menjadi sombong. Dia menyadari sungguh-sungguh tentang posisinya di hadapan Yesus. Dia memahami bahwa posisisnya begitu rendah di hadapan Tuhan.Dari perkataan perwira di ayat 6-8 kita dapat melihat kualitas iman yang dimiliki perwira ini. Pertama, iman yang didasari oleh ketidaklayakan diri di hadaan Tuhan. Dia segera mengirim sekelompok utusan untuk mencegah Yesus datang kerumahnya (ayat 6). Dia menjelaskan bahwa dirinya sangat tidak layak untuk bertemu Yesus. Kedua, iman yang didasari oleh pengakuan terhadap otoritas Tuhan.  Dia meyakini bahwa Yesus mampu menyembuhkan dari jarak jauh bahkan Yesus hanya perlu mengucapkan sepatah kata saja.Ketika Yesus mendengar perkataan perwira dari para sahabatnya, Yesus memuji iman perwira tersebut. Yang menarik adalah Dia tidak memuji kelebihan perwira itu. Dia justru memuji imannya. Kesembuhan itu dianugerahkan atas dasar iman; iman yang penuh dengan kerendahhatian.Mari kita juga belajar untuk memiliki iman yang penuh dengan kerendahhatian dihadapan Allah.Sekalipun kerendahhatian merupakan sikap yang semakin lama semakin langka. Manusia cenderung untuk membanggakan diri sendiri dan kerendahhatian dianggap sebagai sikap yang menunjukkan kelemahan, aneh, kuno dan tidak relevan dengan situasi modern. Namun bersyukur bahwa kita bukan anak-anak dunia, melainkan anak-anak Allah. Apa yang diremehkan dunia, dipandang baik oleh Allah. Itulah yang Allah ingin lihat dari kita.Dan