Pembenaran Allah—Irresisitable Grace

by samuelyasa


Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan (Rm. 10:10)

Konsep pembenaran Allah sangat erat kaitannya dengan anugerah. Dan ketika kita berbicara tentang konsep anugerah maka tidak terlepas dari konsep irresistable grace (anugerah yang tidak dapat ditolak), di mana karya pembenaran Allah berlaku efektif dalam diri orang yang bersangkutan. Namun konsep ini mendapat tentangan ketika ada pendapat yang menganggap anugerah yang tidak dapat ditolak meniadakan respon dan pekerjaan manusia. Seandainya panggilan efektif adalah mutlak pekerjaan Allah, maka manusia tidak perlu meresponi Injil. Yang diperlukan hanyalah karya Allah secara internal dalam diri orang berdosa.Melalui ayat ini Paulus mengingatkan kita bahwa pembenaran Allah tidak meniadakan respon kita terhadap Injil. Kita tetap harus meresponi Injil secara positif, karena keselamatan melibatkan pengakuan. Pembenaran ini bersifat memampukan manusia untuk memberikan respon terhadap Injil dalam bentuk pertobatan, iman dan ketaatan. Bagaimanapun, kemampuan untuk meresponi ini tidak berasal dari manusia, tetapi dari Allah sendiri. Kita tetap tidak boleh berpikir bahwa pembenaran adalah hasil kerja sama Allah dan manusia. Pembenaran juga bukanlah perhentian akhir dan tidak terjadi begitu saja secara mistis. Ketika Allah memanggil seseorang secara efektif, maka Allah menggunakan instrumen, yaitu firman-Nya. Dalam karya-Nya ini Allah menerangi pikiran kita dan membuka hati kitasupaya kitamampu memahami dan menerima hal-hal rohani.  Melalui hal ini kita diperhadapkan pada kebenaran bahwa kunci semua perubahan dalam diri individu bukan terletak pada sistem, peraturan maupun edukasi, walaupun tiga hal ini memegang peranan penting. Perubahan sesungguhnya bersifat supranatural oleh karya Roh Kudus melalui firman-Nya. Sekalipun demikian, tanggungjawab kita dalam meresponi panggilan dan pembenaran melalui bertekun dalam firman tidak boleh diabaikan. Dalam sebuah keluarga Kristenpun, anak-anak harus terus diperhadapkan dengan konsep Injil atau doktrin yang  benar dan bukan sekedar dilatih untuk hidup sesuai gaya hidup Kristiani, karena pembenaran—sekali lagi—tidak meniadakan tanggung jawab respon mereka terhadap kebenaran Injil.

Dan

Iklan