Menunjukkan Kebenaran Allah—Tujuan Pembenaran

by samuelyasa


 

Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. (Rm. 25b-26)

 

Pada bagian-bagian sebelumnya kita telah melihat tentang cara manifestasi, alasan serta sumber pembenaran Allah, namun kita tidak boleh mengabaikan bagian dari ayat 25b-26 ini. Akan menjadi rentan jika kita hanya berhenti pada bagian di mana Allah telah berintervensi membenarkan kita di tengah ketidaklayakan kita, yang dengan demikian membuka celah pemikiran ‘men-centered’, yaitu bahwa manusialah yang menjadi fokus dalam hal ini. Allah rela melakukan segala sesuatu untuk manusia, seperti seorang ajudan yang rela berkotor-kotor dalam lumpur untuk membantu mengangkat tuannya ketika tuannya itu terperosok ke dalam kubangan lumpur itu.

Guna mengantisipasi hal itu, pada bagian ini Paulus menunjukkan tujuan dari pendamaian Kristus. Pendamaian Kristus bertujuan untuk menunjukkan kebenaran Allah. Frase “kebenaran Allah” di sini dimengerti sebagai salah satu aspek sifat Allah (keadilan-Nya). Interpretasi ini sesuai dengan ayat 25b di mana: kesabaran Allah dalam membiarkan dosa-dosa yang terdahulu (periode waktu sebelum salib; Kis. 14:16; 17:30) bisa menimbulkan kesan Allah tidak adil, karena keadilan-Nya seharusnya menuntut semua dosa tersebut ditindak. Melalui pengorbanan Kristus maka keadilan Allah dinyatakan (ada hukuman yang direalisasikan). Jadi dengan demikian, pendamaian yang dilakukan Kristus di atas kayu salib ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa Allah adalah benar (adil) dan membenarkan orang berdosa (ay. 26). Di sini kita melihat suatu tujuan yang sangat ‘God-centered’ (Theosentris) dalam setiap tindakan Allah, termasuk dalam karya pendamaian-Nya.

Ketika melihat bagian ini, sebuah pertanyaan reflektif bagi kita; Mampukah kita untuk selalu melihat secara Theosentris dalam setiap hal yang terjadi dalam kehidupan kita? Mampukah kita untuk melihat bahwa kesehatan kita, harta kita, pekerjaan kita, keharmonisan keluarga kita, bahkan keberadaan kita sepenuhnya sebagai seorang manusia adalah untuk menunjukkan kebenaran dan kebesaran Allah? Mampukah kita melihat bahwa setiap berkat-berkat yang kita terima sebenarnya bukan hanya untuk “diri kita”, melainkan untuk Allah, di mana pekerjaan Allah dinyatakan melalui berkat-berkat tersebut, dan nama-Nya dipermuliakan. Milikilah hidup yang Theosentris dan biarlah Dia menerima segala pujian. Soli Deo Gloria.Dan