Penebusan Dan Pendamaian Kristus; Sumber Pembenaran Allah

by samuelyasa


dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. (Rm.24-25a)

 

Mungkin ada yang bertanya, “mengapa hanya dengan beriman saja bisa membawa seseorang dinyatakan benar oleh Allah?”Jawabannya adalah karena semua itu bersumber dari anugerah Allah. Penekanan pada hal ini terlihat dari pemakaian frase “dengan cuma-cuma” dan “oleh kasih karunia”. Ada dua aspek karya Yesus Kristus yang disinggung dalam bagian ini:

  1. Penebusan (ay. 24).Kata ini secara prinsip berarti pembebasan melalui pembayaran suatu harga. Pada abad ke-1 dan ke-2 SM kata ini dipakai untuk penebusan tawanan perang, budak atau penjahat. Dalam PL kata ‘penebusan’ ini sering dipakai untuk pembebasan budak (Im 25:47), pembebasan dari perbudakan di Mesir (Kel 15:13) atau Babel (Yes 43:1).
  2. Pendamaian (ay. 25a).Konsep tentang ‘pendamaian’ ini bisa disalahartikan karena ide tentang Allah yang disiratkan melalui kata tersebut tidak berbeda dengan dewa kafir yang sedang marah dan meminta sesuatu sebagai bayaran pendamaian. Bagaimanapun, ada dua perbedaan mendasar antara konsep Allah dan dewa kafir. Pertama, kemarahan Allah merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan dari naturnya yang mahakudus. Kedua, Allah sendiri yang berinisiatif mengadakan pendamaian (ay. 25a). Berbeda dengan kemarahan dewa kafir dimana manusia yang harus berinisiatif datang memohon pengampunan dengan membawa korban persembahan. Lebih lagi jika hal ini dilihat sebagai penggenapan dari tipologi di Imamat 16:2 tentang “tutup pendamaian” di ruang maha kudus. Kalau duhulu tutup pendamaian tersebut tersembunyi dalam ruang maha kudus, sekarang Yesus ditampilkan sebagai tutup pendamaian yang sejati.

Melihat dua aspek ini, seharusnyalah kita datang kepada Tuhan dengan perasaan hancur hati sebagaimana layaknya seorang “budak dosa” yang tidak layak. Bukan saja waktu pertama kali kita bertobat, namun terus ada setiap hari, setiap saat ketika kita menghadap Tuhan. Inilah yang seringkali diabaikan dan dianggap remeh oleh orang-orang yang sudah lama “Kristen”. Jangan sampai kita juga terjebak pada sebatas pengakuan di luar kepala sehingga kehilangan rasa hancur hati itu.Dan