Keberdosaan Manusia; Alasan Pembenaran Allah

by samuelyasa


…Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,(Rm. 3:22b-23)

Saat ini kita hidup di tengah dunia yang dipengaruhi oleh trend narsisme, yaitu suatu trend yang mengajarkan cinta terhadap diri sendiri secara berlebihan, sebuah penghargaan tak terbatas terhadap “diri”. Trend ini tidak hanya terwujud dalam diri anak-anak muda yang mencari aktualisasi diri dengan eksis di jejaring sosial agar dikenal dunia dan haus akan pujian–itu hanya lapisan terluar dari narsisme–, namun lebih dalam lagi trend ini sebenarnya juga telah menciptakan “perintah ketiga”. Ketika Yesus berbicara tentang “perintah yang pertama dan terutama” dan perintah yang “kedua” (Mat. 22:37-39), Ia sama sekali tidak menyebut perintah “ketiga”, yaitu untuk mengasihi diri sendiri, apalagi memuja diri.  Hari ini ketika kita sampai pada Roma 3:23, maka segala kemegahan dan pujian yang dicari-cari manusia melalui trend narsisme tersebut sepenuhnya diruntuhkan. Kata sambung “karena” di ayat 22b merupakan alasan yang menerangkan mengapa pembenaran disediakan bagi semua orang yang percaya. Posisi semua orang, yang dalam bagian ini terrepresentasi oleh bangsa Yahudi dan Yunani, adalah sama. Mereka tidak memiliki perbedaan apapun dalam konteks penghakiman (ay. 22b, band. 2:9; 3:9), karena mereka semua telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (ay. 23).Frase “kehilangan kemuliaan Allah” merupakan konsekuensi dari dosa.Keterangan “semua” mengindikasikan bahwa konsekuensi ini juga dialami oleh orang percaya—termasuk kita—sampai saat ini. Menurut pemahaman Yahudi, kemuliaan Allah ini adalah kemuliaan yang diberikan kepada manusia sebelum ia jatuh ke dalam dosa dan akan direstorasi kembali pada akhir jaman (Yes 35:2). Pemahaman ini mungkin yang sedang dimaksud Paulus di sini (5:2; 8:18, 21, 30).Pertanyaan bagi kita; ketika kita menyadari status dan posisi kita di dalam keberdosaan yang begitu hina dan telah kehilangan kemuliaan itu, masihkah kita bermegah dalam diri kita sendiri? Masihkah kita mengagungkan diri dan meneriakkan “HERE I AM” untuk mendapat pengakuan dan pujian?? Bukankah dari dalam diri kita sendiri kita tidakmampu…dan oleh karena itulah Allah yang berinisiatif dan berintervensi untuk membenarkan kita?

                                                                        Dan