HUMANIS NON AGAMIS; PEMBENARAN DIRI MANUSIA

by samuelyasa


(Rm. 3:10-20)

Pada tahun 1970-an muncul Gerakan Potensi Manusia yang menitikberatkan pada kebutuhan manusia akan aktualisasi diri. Pada tahun 1980-an dan 1990-an, Gerakan Zaman Baru bergabung dengan Gerakan Potensi Manusia ini. Gerakan ini memanggil manusia untuk melihat ke dalam diri dan mengeksplorasi diri, sebab solusi dari masalah-masalah manusia berasal dari dalam dirinya.Dengan seruan seperti yang diajarkan oleh gerakan ini, maka saat ini banyak orang—khususnya di belahan dunia barat—yang berfikir dan bertindak bahwa dengan mengoptimalkan kekuatan serta kemampuan dalam diri manusia, itu sudah cukup untuk mempertahankan keselarasan hidup umat manusia.Orang dengan sistem pemikiran seperti ini mampu untuk memiliki standart moralitas yang baik; tolong menolong, tidak korupsi, dll, namun bukan karena Allah, melainkan karena diri mereka sendiri.Orang mampu mempertahankan moralitas yang tinggi karena mereka menganggap manusia sebagai objek terpenting; berdasarkan asas perikemanusiaan dan pengabdian terhadap kepentingan sesama umat manusia. Karena itu tidak heran jika kita dapat melihat suatu komunitas dimana moralitas terjaga baik tapi gereja kosong, karena mereka beranggapan “untuk apa masih memerlukan Tuhan, jika manusia bisa melakukannya dengan baik melalui kekuatan diri sendiri”, dan dengan demikian mereka mengikrarkan slogan “God is Dead”. Sadar atau tidak, pemikiran seperti inilah yang berkembang pesat di sekitar kita saat ini.Ketika kemampuan dan kekuatan diri dieksplorasi dan menjadi fokus utama dalam kehidupan, pelan-pelan manusia dibawa untuk menyangkal kebutuhan utamanya terhadap Allah.Bagian firman Tuhan kali ini mengingatkan kita suatu kebenaran mutlak bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada hakekat nilai yang ada di dalam dirinya sendiri. Nilai manusia ditemukan justru melalui kesadaran tentang keberdosaannya dan kebutuhannya akan kelahiran kembali serta penebusan di dalam Kristus (‘atonement’, bukan ‘at-one-ment’). Mari kita menyadari hal ini dan tidak terjebak pada arus pemikiran dunia yang menyesatkan.Manusia tidak dapat mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri untuk menjadi benar, karena semua manusia—sebaik apapun dia—telah berdosa.Manusia memerlukan penebusan Kristus yang membenarkannya.Dan