KEINGINAN HATI DAN KEBERDOSAAN

by samuelyasa


6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.Kejadian 3

13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. 14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. 15 Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.
Yakobus 1

Saya rasa setiap kita pernah memiliki pengalaman yang sama dalam urusan berbelanja (entah ke pasar, ke mall atau pusat perbelanjaan), yakni membeli barang yang tidak masuk dalam rencana belanja kita. Di samping membeli barang-barang dalam daftar belanja, kita menambahkan dengan barang-barang lain di luar daftar. Atau, kita lupa membeli barang yg dimaksud, justru membawa pulang barang lain yg diluar rencana. Atau, apapun itu yg terjadi di tempat perbelanjaan. Alasan kita: baru keingatatau barang ini juga penting atau habis bagus sih dan diskon lagi, dan lain-2nya.
Akses semua itu diawali oleh apa yg kita lihat sehingga menimbulkan keinginan hati dan ingin untuk mewujudkannya seiring sikon yang memungkinkan atau tidak. KEINGINAN HATI memiliki peranan yg sangat dominan dalam hidup manusia, bukan sekedar dalam masalah-2 kebendaan tetapi juga berkecimpung dalam kehidupan kita di hadapan Tuhan.Dalam melakukan ketaatan dan pelanggaran.
Bacaan kita di atas menegaskan hal ini, di mana dosa memiliki kolaborasi yang sangat handal, dosa telah merasuk manusia dalam natur keberdosaannya; dosa juga dapat menghadirkan faktor eksternal yang dapat menggodai manusia; dan dosa bekerja melalui panca indera dan keinginan hati yang ditimbulkannya. Sampai di satu tahap manusia “memutuskannya,” apakah ia akan membuahi keinginannya tersebut atau menolaknya. Mungkinkah kita memerangi bahkan berkemenangan terhadapan keinginan hati yang demikian? jp