People Need the Lord— Sebuah Kebergantungan yang Seimbang

by samuelyasa


Mereka semua mengadakan persepakatan bersama untuk memerangi Yerusalem dan mengadakan kekacauan di sana.

Tetapi kami berdoa kepada Allah kami, dan mengadakan penjagaan terhadap mereka siang dan malam karena sikap mereka.

 (Nehemia 4:8-9)

 

Dalam proyek pembangunan kembali tembok Yerusalem, Nehemia menghadapi tentangan besar dari musuh-musuh orang Yahudi. Ketika orang Yahudi sudah membangun tembok sampai setengah tingginya, Alkitab mencatat bahwa musuh-musuh mengadakan persepakatan untuk membuat kekacauan di sana. Namun perhatikan tanggapan Nehemia terhadap ancaman penyerangan itu. Dia dan anak buahnya berdoa dan mengadakan penjagaan. Ia tahu harus bertanggung jawab untuk menjaga, tetapi ia juga tahu bahwa ia harus bergantung pada Allah.

Hari ini kita cenderung terbagi dalam dua kubu. Orang yang lebih ‘praktis’ akan sibuk mengorganisir penjagaan, dan orang yang lebih ‘rohani’ akan menyerukan doa semalam suntuk untuk bergantung pada Allah, bukan kepada manusia. Nehemia melakukan keduanya. Mereka berusaha dan bekerja dengan mengadakan penjagaan, namun ia juga memohon pertolongan Allah karena tanpa Allah sia-sialah pekerjaan mereka. Mazmur 127:1 mengatakan, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga”. Jerry Bridges dalam bukunya “The Discipline of Grace” mengilustrasikan hal ini dengan sebuah pesawat yang memerlukan kedua sayapnya untuk bisa terbang. Satu sayap adalah disiplin dan tanggung jawab kita untuk berusaha, dan sayap lain adalah kebergantungan pada Allah. Keduanya harus seimbang sehingga kita bisa survive dalam kerohanian dan kehidupan kita.

Kita tidak boleh—dan tidak bisa—memikul tanggung jawab dengan kekuatan dan tekad kita sendiri. Kita harus bergantung kepada Allah untuk memampukan kita. Namun kita juga tidak bisa mengatakan bahwa kita tidak punya tanggung jawab karena sudah bergantung. Allah memampukan kita bekerja, tetapi tidak melakukan pekerjaan itu bagi kita.

Dan