Memerlukan Tuhan di Atas Kesuksesan Duniawi

by samuelyasa


(Lukas 14:15-24)

 

Bagian ayat ini berisi tentang perumpamaan Yesus mengenai orang-orang yang diundang ke perjamuan besar. Tidaklah sukar untuk memahami, bahwa perumpamaan ini melambangkan Allah yang dengan setulus hati mengundang manusia untuk berpartisipasi di dalam perjamuan besar keselamatan. Namun dari perumpamaan ini kita melihat bahwa tak seorang pun dari mereka yang telah diundang itu mau datang sekalipun pesta itu sudah siap untuk dilaksanakan. Yang satu berdalih karena sibuk  dengan ladang baru. Orang yang kedua baru saja membeli lima pasang lembu kebiri. Dia tentunya seorang pengusaha; jika tidak, dia tidak akan membeli lima pasang lembu sekali beli. Yang lainnya menolak karena baru saja melangsungkan perkawinan. Semua sibuk dengan urusan masing-masing.

Orang dunia senang dengan kesibukan karena kesibukan adalah lambang dari kesuksesan. Setiap orang membawa handphone. Saat mereka sibuk menjawab panggilan demi panggilan telepon, mereka akan merasakan suatu kebanggaan yang tersembunyi – “Lihat betapa sibuknya aku! Semua orang memerlukanku!” Kesibukan menimbulkan rasa sukses pada diri seseorang. Di Jepang, orang tidak langsung pulang setelah bekerja. Jika langsung pulang, maka istri mereka akan berkata bahwa mereka tidak berguna. Itu sebabnya mengapa banyak pria Jepang yang harus memainkan ‘peran sebagai orang sibuk’ agar terlihat seolah-olah banyak orang yang membutuhkannya, karena kesibukan adalah lambang kesuksesan.

Permasalahannya, ketika orang telah berada dalam kesusesan, seringkali mereka beranggapan bahwa mereka tidak memerlukan apapun—termasuk Allah. Jika orang tidak sedang dalam keadaan terdesak, masih mampu, tidak cacat, tidak buta, mereka sulit untuk melihat kebutuhan akan Allah ini. Mereka baru sadar ketika mereka sudah putus asa. Seperti pepatah Inggris yang mengatakan, “Tak ada ateis di parit perlindungan”. Itu sebabnya, yang menjadi persoalan adalah apakah saat ini kita memang benar-benar sadar bahwa kita membutuhkan Allah?  Hal apakah yang membuat kita tidak merasa memerlukan Allah? Pekerjaan kita, kesehatan kita, keluarga kita, segala yang kita miliki?! Dalam kenyataannya, apakah rasa kebutuhan itu ada atau tidak, sangat Jadi, hal itu bergantung kepada kondisi hati dan sikap kita.

Apakah di dalam hati kita, kita membutuhkan Allah? apakah kita bisa melihat kebutuhan itu? Jangan menunggu sampai kita terdesak dan terpojok untuk dapat melihat mengakui hal ini.                                                                   Dan