Memerlukan Tuhan di Atas Kehebatan Diri

by samuelyasa


(Filipi 3:1b-11)

 

Dalam bagian ini Paulus menyebutkan beberapa kelebihannya. Dia disunat pada hari ke-8. Ini membuktikan bahwa dia orang Yahudi asli, bukan keturunan Ismael yang disunat setelah remaja, bukan proselit maupun campuran Yahudi-Yunani, juga bukan orang Yahudi lain yang karena suatu alasan tidak disunat pada hari ke-8. Dia dari bangsa Israel. Ini menegaskan bahwa dia adalah orang Yahudi secara biologis sejak kelahiran dan memiliki beragam hak istimewa. Dia keturunan Benyamin, suku yang memiliki banyak keistimewaan. Dia orang Ibrani asli. Dalam teks Yunani tertulis “Ibrani dari Ibrani” yang menunjukkan bahwa Paulus bukan hanya berdarah Yahudi, tetapi juga berbudaya Yahudi. Dia adalah orang Farisi. Dia tidak bercela dalam menaati Taurat. Kelebihan ini merupakan puncak dari semua yang telah dikatakan. Paulus mengklaim diri sebagai penurut Taurat yang tanpa cela. Dia lebih maju dalam keagamaan dibandingkan banyak orang sebayanya (Gal 1:14). Dari semua kelebihan di atas terlihat jelas bahwa Paulus adalah orang yang sangat saleh menurut agama Yahudi waktu itu. Seandainya ada orang yang bisa selamat karena perbuatan baik, maka Paulus tampaknya paling berpeluang sebagai orang pertama yang akan masuk ke surga dengan usaha sendiri. Ternyata, Paulus justru menganggap semua kelebihan itu sia-sia. Kelebihan itu bukan hanya tidak berguna (“sampah”), tetapi sebagai kerugian karena hal-hal lahiriah tersebut telah membuat Paulus merasa bangga dengan diri sendiri dan tidak bergantung pada anugerah Allah. Sebagai gantinya, Paulus menerima anugerah yang dia terima melalui iman, bukan berdasarkan siapa dirinya maupun apa yang dia lakukan. Dia menyadari bahwa yang paling penting adalah mengenal Kristus (ayat 8) Konsep ini merupakan salah satu keunikan kekristenan dibandingkan ajaran yang lain. Allah tidak hanya menuntut manusia yang berdosa untuk mencapai standar moral yang Dia tetapkan. Kalau hanya sekedar tuntutan, maka hal itu tidak akan ada gunanya. Semua manusia berada dalam status sebagai orang berdosa, dikuasai oleh dosa dan memiliki natur yang berdosa pula, sehingga mereka pasti cenderung pada dosa. Dalam anugerah-Nya melalui iman kepada karya Kristus, status sebagai orang berdosa dan kuasa dosa dalam diri kita telah dihapuskan. Kita hanya perlu bergumuldengan natur kita yang rusak, itupun kita dipimpin oleh Roh Kudus (Rom 8:5-6). Dan