PENTING & KURANG BERARTI

by samuelyasa


6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.

10:23 “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.         I Korintus 

 

Kita sedang hidup dalam jaman yang menempatkan KESAN sebagai sesuatu yang penting. Bagaimana orang lain melihat kita menjadi bagian yang perlu diperhatikan, khususnya berkenaan dengan apa yang kelihatan, atau yang nampak oleh mata. Akibatnya, dalam hal/kondisi tertentu manusia berusaha untuk memadukan 2 hal yang dianggap penting yakni antara FUNGSI dan GENGSI. Bila memungkinkan untuk memadukan, maka sah-sah saja manusia melakukan berbagai upaya untuk memadukannya. Namun terkadang harus diakui, dalam sikon tertentu kita harus memilih di antara keduanya, mana yang terpenting bagi kita.

Dari 2 bacaan yg semuanya dituliskan oleh Paulus, kita diajak untuk merenungkan antara hal-2 yang halal & diperbolehkan dengan hal-2 yang berguna dan membangun. cara pandang yang membutuhkan hikmat Tuhan untuk meresponinya dengan tepat. Halal dan diperbolehkan adalah sebuah tataran yang tidak menyalahi hukum manusia dan hukum Tuhan, tetapi berguna, bermanfaat, berarti dan membangun memiliki nilai-2 Illahi yang untuk itulah setiap kita diciptakan dan dipanggil oleh-Nya.  Yang seharusnya lebih tandas kita pikirkan adalah apakah maksud Paulus mengatakan bahwa dirinya tidak mau diperbudak/diperhamba oleh sesuatu yg halal. Seorang senior di Perkantas men-sharing-kan bahwa disitulah terletak kehebatannya, yakni terlepas dari cara berpikir yang legalisme menuju cara berpikir yang bertujuan menyenangkan hati TUHAN.

Perenungan adakah dalam hidup kita ini sesuatu yang kita anggap penting namun sesungguhnya tidak terlalu berguna, berfaedah, bermanfaat bahkan membangun? Sangat besar kemungkinan jawabannya TIDAK ADA. Semuanya berguna, minimalnya utk diri sendiri, kepuasan hati, melayani kebutuhan nafsu hedonis dan materialis kita. Tetapi poin-nya bukan itu, bagaimanakah bagi orang lain, bagi kehidupan dan peradaban manusia, bagi pekerjaan TUHAN, bagi tujuan dan panggilan Allah bg kita?

Iklan