KEPENTINGAN & “PENGORBANAN”

by samuelyasa


6:26 Karena bagi seorang sundal sepotong rotilah yang penting, tetapi isteri orang lain memburu nyawa yang berharga.                Amsal

 

16:18 Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya.                                                     Roma

 

Perenungan hari ini ingin mengungkapkan sebuah tradisi yang sering terjadi tatkala manusia sedang berupaya mengedepankan kepentingannya, khususnya ketika ia tidak mau/enggan memperhatikan kepentingan orang lain. Tradisi tersebut adalah tradisi “pengorbanan,” yakni mengorbankan orang lain demi mewujudkan kepentingannya.

Bagi seorang wanita sundal, hasil persundalan itu penting. Ia mendapatkan apa yang diinginkannya, yakni sepotong roti – hal ini semakin nyata apabila ia melihat persundalannya yang menafkahinya. Sundal itu nafkahnya, sundal itu rotinya dan berarti sundal itu hidupnya; ia tidak peduli siapa laki-2 yg bersundal dg-nya, ia juga tidak peduli istri dan anak dari laki-2 tersebut. Tetapi bagi sang istri suami yang tidak setia itu adalah nyawa yg berharga baginya yang terus diburu untuk diselamatkannya. Wanita sundal ini telah mengorbankan istri yang baik itu untuk kepentingannya.

Kebejatan wanita sundal ini juga dapat dilakukan oleh orang-2 yang menamakan diri sebagai seorang pelayan TUHAN, bilamana orientasi pelayanan mereka tidak tertuju pada kemuliaan Kristus sebagai TUHAN yang dilayani; namun melihatnya sebagai job yang harus disandang demi perut mereka. Bagaimana mereka memukau dan menawan hati orang banyak menjadi lebih penting, sekalipun dengan omong kosong dan pengajaran yang tidak benar. Untuk kepentingan, mereka telah mengorbankan pengajaran yang benar, mengorbankan orang lain yg disesatkan, bahkan mengorbankan panggilan dan hidup persembahan mereka, dan yg terdasyat – mereka mengorbankan nama Kristus untuk perut mereka.

 

DOA  Betapa sulitnya pergumulan kami untuk menempatkan orang lain lebih utama ketimbang kami mengorbankan mereka. Amin                 jp