Keseimbangan dalam memahami pelayanan adalah suatu penghormatan dan bukan beban

by samuelyasa


Keseimbangan dalam memahami pelayanan adalah suatu penghormatan dan bukan beban
1 Timotius 3:1-13
Benarlah perkataan ini: “Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah. Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu istri … seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati anak-anaknya(1Tim. 3:1-4)

Kita acapkali menikmati tayangan di media tentang korupsi yang semakin merajalela yang dilakukan oleh para pemimpin kita. Sudah menjadi rahasia umum apabila seorang pejabat naik untuk menjabat suatu jabatan tertentu maka saat itu juga saatnya untuk mengembalikan modal yang telah mereka keluarkan untuk mencapai posisi tersebut. Dan satu-satunya cara dengan melalui korupsi. Belajar dari para pemimpin yang demikian, tentunya tiap saat hidupnya tidak pernah diliputi oleh sukacita. Karena sesungguhnya dalam hati dan pikirannya akan terus berkecamuk berbagai pemikiran untuk mencapai target balik modal dengan cara apapun. Bagaimana jika pengalaman tersebut dialami oleh para pemimpin gereja. Dan bisa saja itu dialami oleh kita. Bila kita diminta untuk menduduki jabatan dalam gereja, bagaimana perasaan kita? Apakah kita merasa diri hebat dan sudah sepantasnya menduduki jabatan tersebut, atau kita merasa tidak layak dan menerima jabatan tersebut dengan perasaan terharu? Bila kita sudah atau sedang menduduki jabatan dalam gereja, apakah pelayanan tersebut terasa sebagai beban yang mendatangkan rasa lelah atau sebagai kehormatan yang mendatangkan sukacita? Bila kita masih merasakan pelayanan sebagai beban, kita perlu merenungkan kembali ketidaklayakan kita di hadapan Allah.
Bagian firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa sesungguhnya rasul Paulus juga menyadari ketidaklayakannya. Dia mengakui bahwa dirinya adalah orang yang paling berdosa (1Tim. 1:15-16). Tentunya kesadaran akan ketidaklayakannya itu membuatnya untuk rela dan bersedia mengalami kelelahan, dimasukkan ke dalam penjara, menghadapi bahaya maut, disiksa, dan mengalami berbagai macam penderitaan yang berat tanpa mengeluh (2Kor. 11:23-27). Sebaliknya, bila seseorang menganggap pelayanan sebagai beban atau sebagai jasa kepada Allah, maka ia akan mudah mundur dan meninggalkan pelayanan saat menghadapi tantangan dan kesulitan. Satu hal yang harus kita renungkan bahwa kita akan menghargai pelayanan yang dipercayakan kepada kita hanya bila kita menyadari bahwa sebenarnya kita tidak layak menerima tugas pelayanan tersebut.

DOA:
Tuhan,tolonglah kami untuk dengan sukacita menerima tanggung jawab apapun yang Engkau percayakan kepada kami, karena sesungguhnya kami tidak layak menerima jalan panggilan ini. Amin.