Keseimbangan peran dalam keluarga, pekerjaan dan pelayanan

by samuelyasa


1 Samuel 25:3,32-33
“terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan.”
(1Samuel 25:33)

Kita semua tahu siapa Hillary Clinton, dia menjadi sosok utama keberasilan suaminya menjadi presiden. Bahkan pada saat kampanye Clinton berkata (bercanda tapi mungkin juga serius) “jika anda memilih saya, anda akan mendapat 2 presiden” maksudnya Hillary adalah perempuan yang “cakap” dan berperan banyak dalam keberhasilannya. Dan itu terbukti, ketika Clinton dilanda “kasus” yang sensitif, Hillary tampil sebagai pendamping yang setia, tidak peduli mungkin kasus suaminya itu sungguh menyakitkan hatinya. Dan Clinton pun selamat dari kasus yang menimpanya. Selanjutnya ketika Clinton sudah tidak menjabat presiden lagi Hillary tetap maju dalam dunia politik dan menjadi senator. Ini adalah cerminan perempuan pintar dan cakap tetapi tetap sebagai “penolong” yang setia. Tentunya tidak mudah untuk dapat menjalankan peran sebagai istri yang bijak apabila memiliki suami yang gagal dalam menjalankan perannya sebagai suami yang baik. Apa yang pernah dilakukan oleh Hillary tentunya tidak pernah lepas dari nilai-nilai kekristenan yang dianutnya.
Jauh sebelum Hillary hidup, Tuhan juga memakai seorang wanita bernama Abigail. Abigail datang mengingatkan Daud tentang kehendak Allah dengan berkata, “demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu yang dicegah TUHAN dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan, biarlah menjadi sama seperti Nabal musuhmu dan orang yang bermaksud jahat terhadap tuanku! Tak usahlah tuanku bersusah hati dan menyesal karena menumpahkan darah tanpa alasan, dan karena tuanku bertindak sendiri dalam mencari keadilan.” (1Sam. 25:26,31). Sesungguhnya dalam kemarahan, Daud terburu-buru memutuskan untuk membunuh Nabal dan semua laki-laki di rumahnya. Ketika Abigail mendengar apa yang terjadi, ia cepat-cepat mengumpulkan banyak makanan, menahan Daud beserta para prajuritnya, dan dengan rendah hati meminta ampun atas perlakuan suaminya yang tidak ramah. Daud segera menyadari bahwa wanita itu telah mencegahnya untuk melakukan keputusan yang penuh dendam, dan ia pun memuji Allah (1 Samuel 25:32).
Abigail adalah seorang wanita yang luar biasa! Ia adalah pembawa damai sejati. Karena keberaniannya, calon raja Israel tidak jadi melakukan suatu dosa yang mengerikan.Dia bukan hanya telah memerankan seorang istri yang baik bagi Nabal dan menutupi serta menerima segala kekurangan suaminya tetapi juga telah berani untuk menyuarakan suara kenabian bagi Daud. Tentunya keteladanan inilah yang dinantikan dapat dimiliki oleh keluarga orang percaya. Menantikan sosok istri yang bijak dan pemberani dalam menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga yang melayani suami dan keluarganya serta bagi sesamanya.

DOA:
Tuhan,kamimembutuhkan hati yang bijaksana dalam menyikapi banyak kekurangan dalam keluargaku. Amin.