MEMBANGUN KEUTUHAN KELUARGA (2)

by samuelyasa


Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?” Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. (Mat 19:7-8)

 

 Persoalan tidak akan pernah dapat diselesaikan dengan baik tatkala kita hanya diam atau mendiamkan masalah itu. Kadang harus kita akui bahwa kita “agak sungkan” atau “sudah bosan” untuk membicarakan masalah yang sedang mengganjal. Dan dampaknya, masalah-masalah ini akan seperti “api dalam sekam” yang sedang menunggu waktu untuk benar-benar terbakar dan menghanguskan lainnya.

Kita sering mendiamkan dan tidak membicarakan karena merasa bahwa mereka akan mengerti dan tahu dengan sendirinya atas kesalahan yang sedang dilakukan. Namun ternyata tidaklah demikian, banyak orang tidak tahu kesalahan yang dibuatnya (tahupun kadang malah bersikap tidak mau tahu) dan terus melakukan kesalahan yang sama. Tidak heran, persoalan yang terus dibiarkan pada waktunya dapat meledak, bagai “bom” yang menghancurkan segalanya. Misalnya, ada keluarga yang nampak baik, hangat dan harmonis namun secara mengejutkan mereka berpisah (bercerai) yang membuat heran banyak orang.

Kekerasan sikap hati bukan saja ditunjukkan dalam hal tidak mau mengalah, namun juga tidak pernah membicarakan secara terbuka di dalam terang kuasa Firman Tuhan. Hampir setiap persoalan tidak pernah diselesaikan dalam doa dan hikmat Tuhan, artinya melihat persoalan dari sudut pembentukan Tuhan. Padahal ketika kita membuka hati kita pada terang Firman-Nya, maka kitapun akan diberikan hikmat ilahi untuk menyelesaikan persoalan itu bukan dari kemampuan dan kekuatan kita sendiri, melainkan pimpinan Tuhan yang membawa kedamaian. “Ya Bapa, lembutkanlah hatiku untuk mengasihi dan mengampuni”                         AS