MEMBANGUN KEUTUHAN KELUARGA

by samuelyasa


Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat 19:5-6).

Persoalan-persoalan dalam keluarga memang tidak pernah bisa habis untuk dibicarakan. Satu persoalan belum selesai, sudah muncul persoalan lain, dan selalu berkaitan satu dengan yang lain. Tatkala masalah ini semakin rumit, masing-masing pribadi mulai membangun zona aman untuk dirinya sendiri dan cenderung memojokkan dan menyalahkan anggota keluarga yang lain. Akibatnya suasana di rumah menjadi tidak nyaman dan saling curiga, padahal mereka yang tinggal di dalam rumah adalah anggota keluarga sendiri.

Persoalan inipun semakin rumit tatkala masing-masing pribadi sudah sangat “dingin” dalam berelasi, berinteraksi dan berkomunikasi. Tinggal seatap namun merasa asing dengan anggota keluarga lainnya. Suami istripun mulai mencari tempat tidur sendiri-sendiri alias pisah kamar. Alasan yang dipakaipun sederhana, yaitu untuk menenangkan diri. Pada puncaknya, masing-masing pribadi akan mempunyai pikiran untuk melepaskan diri dari pasangannya, yaitu ingin CERAI ! Alasan yang dipakaipun sangat ringan, yaitu sudah tidak ada kecocokan.

Ketika pikiran cerai sudah ada di benak masing-masing pribadi, maka sangat sulit untuk mencari jalan pemulihan, sebab masing-masing pribadi sudah membentuk “zone aman” untuk dirinya sendiri. Padahal tatkala ia menikah, itu adalah pilihannya sendiri. Bahkan Firman Tuhanpun mulai diabaikan dan digantikan dengan sejuta alasan. Pikiran dan sikap demikian harus dijauhkan dari benak dan ranah berpikir kita. Belajarlah untuk mengampuni, mengerti, menerima meskipun itu sangat sulit. Bukan karena kita bisa, namun Tuhan yang memampukan. “Ya Tuhan, jagailah keluarga kami, agar kami tetap bersatu dan memuliakan nama-Mu”              AS