Menjembatani Perbedaan

by samuelyasa


Kej. 1: 27,” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah di ciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan di ciptakanNya mereka.”

Kejadian

 

Secara garis besar boleh di katakan bahwa dalam percakapan, perempuan lebih menginginkan terciptanya perasaan dekat dan harmonis. Perempuan membutuhkan pengakuan, ingin di mengerti dan di terima. Dalam percakapan dengan suaminya, sering kali bercerita panjang lebar dan cukup mendeteil. Tetapi suami menginginkan hal yang lebih praktis, sehingga tidak sabar mendengar cerita istrinya, lalu memotong pembicaraan. Hal ini bisa di salah tafsirka isteri sebagai penolakan. Dengan demikian konflik sangat mungkin terjadi.

Sewaktu menghadapi persoalan, wanita lebih senang membicarakannya, sedangkan laki-laki lebih senang menarik diri dan berdiam diri. Bagi perempuan bercerita dengan orang lain merupakan ekspresi adanya keterikatan dan mendengarkan merupakan suatu tanda adanya ketertarikan dan kepedulian. Berbagi rasa dan bertukar informasi merupakan dasar yang paling fundamental dari keintiman perempuan. Tetapi isteri yang ingin menceritakan masalahnya dengan mendeteil dianggap suami sebagi orang yang cerewet dan tidak dewasa. Di lain pihak, suami yang berdiam diri dianggap sebagai orang dingin dan tidak menganggap isterinya. Maka terjadilah konflik.

Untuk itu suami perlu bersabar, belajar mendengar dan tidak memotong pembicaraan. Isteri perlu belajar menerima perbedaan pola komunikasi dan belajar berpikir baik-baik sebelum berbicara. Isteri perlu belajar membedakan antara berbagi rasa dengan mengomel. Berbagi rasa penting bagi perempuan, tetapi suka mengomel sama sekali tidak dibenarkan. Hal ini juga ditegaskan dalam sabda Tuhan. Keperbedaan kita jembatani dengan saling mengalah. Kalau tidak, akan terjadi konflik.                                             fd