Mengungkapkan perasaan

by samuelyasa


10: 19,” Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.”

Amsal

Suatu sore, sewaktu suaminya pulang kerja, bu Nani menyambut suaminya dengan mesra. Setelah sang suami mandi dan duduk-duduk sambil menikmati teh hangat yang disediakan serta menonton TV, bu Nani mendekati suami sembari bertanya bagaimana keadaan di kantor. Belum banyak tutur kata yang keluar dari mulut sang suami, bu Nani terus ngerocos untuk melaporkan tentang perasaannya karena kucing memecahkan piring, pembantu yang susah di atur, anak yang tidak mau nurut, dan seambrek peristiwa yang di alami sepanjang hari ini. Tetapi seolah suaminya tidak peduli karena kecapean.

Akhirnya, kemarahan ibu Nani memuncak kemudia berkata dengan kasar,” Memangnya saya ngomong seperti ayam berkotek, tidak diperhatikan, tidak di dengar? Lalu suami juga marah dengan mengatakan,” Kamu wanita yang tidak mengerti keadaan orang lain, yang hanya ngomong tok!”

Hasil riset para ahli Psikolog mengungkapkan bahwa perempuan sering kali ingin bercerita secara panjang lebar dan cukup mendetail. Itulah sebabnya perempuan ( rata-rata ) bicara banyak. Rata-rata mengucapkan 25. 000 kata per hari, 45-60 menit perhari lamanya perempuan bicara. Sedangkan laki-laki hanya 15-20 menit setiap minggu. Suatu hal yang sangat kontras dengan lawan bicaranya.

Dengan kondisi yang demikian, terbuka kemungkinan lebih besar bahwa wanita bisa melukai pasangannya dengan kata-kata. Atau bisa saja mengatakan hal-hal yang tidak berkenan, seperti dalam cerita di atas. Itulah sebabnya firman Tuhan mengingatkan kita anak-anakNya agar lebih banyak mendengar dari pada berkata-kata. Sebab dengan demikian kita lebih bijak.                                fd