Lupa Peran = Kegagalan

by samuelyasa


2:12  Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN, 2:29b…  mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?

1 Samuel

Kisah ini boleh kita katakan sebagai kita yang ironis.  Kenapa?  Bagian ini mengisahkan tentang kehidupan keluarga seorang imam yang dipilih untuk melayani Tuhan di tengah-tengah bangsa Israel.  Imam Eli melakukan tugas keimamannya dengan baik di tengah-tengah bangsa Israel tetapi ia gagal melakukan tugasnya sebagai imam di tengah-tengah keluarga.  Buktinya adalah dari ayat yang baca di atas.  Dikatakan bahwa anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila.  Kata “dursila” di sini mengandung makna jahat, berdosa.  Bahkan yang lebih parah lagi dikatakan mereka tidak mengindahkan TUHAN.  Frasa “tidak mengindahkan TUHAN” dalam beberapa terjemahan dituliskan mereka tidak mengenal TUHAN, mereka tidak memiliki pengetahuan tentang TUHAN.  Alangkah ironisnya  karena anak seorang imam yang mengajarkan tentang Tuhan kepada umat tetapi anak-anaknya sendiri tidak mengenal Tuhan yang diajarkan oleh ayahnya kepada umat Israel.  Oleh karena itulah tidak heran kita memukan mereka melakukan dosa-dosa yang sangat-sangat mendukakan hati Tuhan.  Pada ayat 13-16 dituliskan dosa mereka adalah mengambil lemak binatang persembahan yang seharusnya dipersembahkan dulu kepada TUHAN.  Ayat 22 menuliskan bahwa mereka melakukan perzinahan dengan perempuan-perempuan yang melayani di kemah pertemuan.  Sebenarnya apa yang terjadi dalam keluarga ini sehingga anak-anak Eli berbuat perbuatan yang mendukakan TUHAN?  Jawabannya adalah karena Eli lupa akan peranannya di tengah-tengah keluarga.  Ia melayani dan mengajarkan tentang TUHAN kepada umat tetapi ia lupa mengajarkan apa yang diajarkannya itu di dalam keluarga.  Ia tidak juga menjadi orang yang tidak menghormati Tuhan tetapi ia lebih menghormati anak-anaknya.  Ia tidak takut pada Tuhan tetapi ia lebih takut kepada anak-anaknya.

Saudaraku, mari kita bercermin dari kisah ini.  Jangan kita menjadi seperti imam Eli yang lupa tugasnya karena itu berakibat fatal bagi keluarga kita.  Jangan lupa untuk terus membicarakan tentang Tuhan dalam keluarga kita sehingga anak-anak kita pun akan menjadi anak-anak yang mengenal Tuhan, takut akan Tuhan, menghormati Tuhan dengan cara menjauhi kejahatan.  Amin.                                                                                  Jho

Iklan