BELAJAR MENDENGAR

by samuelyasa


Yakobus 1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;

Ada sebuah guyonan sekitar kebiasaan orang-orang untuk berkata-kata, yang diawali dengan sebuah pertanyaan,”apa yang membedakan orang Eropa, orang Jepang dan orang Indonesia dalam hal berkata-kata?” maka jawabannya adalah sebagai berikut:

Kalau orang Eropa membiasakan diri untuk berpikir dulu sebelum berkata-kata.
Kalau orang Jepang biasa dengan sebuah kemampuan sementara ia berpikir ia-pun dapat berkata-kata.
Kalau orang Indonesia memiliki keunikan tersendiri, ia cepat berkata-kata tetapi mikirnya belakangan.
Sebagai orang Indonesia mungkin kita tersinggung, tetapi guyonan ini juga guyonan Indonesia. Tetapi nampaknya apa yang diutarakan oleh Yakobus mencakup sifat dasar manusia yang berkecenderungan lebih mudah dan lebih cepat berkata-kata ketimbang mendengar. Sifat yang demikian akan memunculkan sikap yang senada. Sebagaimana yang kita tahu bilamana kita membaca surat Yakobus ini, yang lebih banyak membicarakan interaksi antar manusia dan bagaimana memunculkan iman dalam interaksi seperti itu, maka kita akan lebih mudah memahami betapa krusialnya hal mendengar.

Untuk mendengarkan orang lain ternyata kita perlu belajar, karena tidak cukup hanya menyediakan telinga saja, tetapi kita juga harus menyediakan waktu bagi orang lain. Yang saya maksudkan waktu secara khusus, karena kalau kita mendengarkan sebagai sambilan karena takut kehilangan waktu, maka kita tidak dapat mendengarkan dengan baik. Yang lain, kita juga harus menyediakan hati. Karena untuk mendengarkan juga harus memberikan per-HATI-an, agar mendengarkan orang lain bisa tercapai pada tujuannya, maka kita harus memberikan hati. Mendengarkan orang yg “di atas” kita jauh lebih mudah ketimbang mendengar orang yang berada “di bawah” kita.

DOA Jadikan kami pendengar-2 yang baik, sebagaimana Engkau yg selalu mendengarkan kami. Amin