“SAYA MENYERAH”

by samuelyasa


Efesus 5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,

Efesus 5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

Kalau kita menyimak dengan seksama ayat di atas maka kita tentunya menemukan ada suatu kesinambungan yang luar biasa antara hubungan satu anggota keluarga dengan yang lainnya. Hubungan yang di gambarkan Yesus untuk suatu sikap antara istri terhadap suami dan suami terhadap istri di kaitkan dengan hubungan yang tidak lepas dengan Kristus sebagai kepala jemaat.

Peter Scazzero, suatu ketika bagai di sambar petir ketika istrenya berkata “Peter, saya akan meninggalkan gereja,” saya sudah tidak sanggup lagi untuk menanggung tekanan ini-krisis yang terus-menerus, gereja bukan lagi kehidupan saya .Itu adalah kematiaan. Bagi Peter ketika jemaatnya berkata demikian ,maka pasti sebagai seorang gembala jemaat dia akan merasa sedih, tetapi mendengar hal ini langsung dari isterinya yang telah mendampinginya selama Sembilan tahun dunia seolah terasa terbalik. Isterinya melanjutkan . “saya mencintaimu tetapi saya harus meninggalkan gereja,” saya tidak lagi dapat menghormati kepemimpinanmu! Hal ini sangat menguncangkan Peter, apalagi isterinya melanjutkan dengan kalimat yang seolah-olah semuanya telah usai dan tak dapat di perbaiki lagi, yaitu “Peter, saya menyerah” (ada yang mengatakan bahwa orang yang paling berkuasa di dunia ini adalah orang yang tidak mempertaruhkan apa pun), Saya mencintaimu Peter, tetapi sejujurnya, saya akan lebih berbahagia bila berpisah daripada menikah. Paling tidak dengan begitu kamu dapat mengasuh anak-anak pada akhir minggu. Barulah mungkin kamu akan belajar menjadi pendengar!

Cerita di atas cukup tragis, hal ini dialami bukan oleh seorang jemaat awam tetapi seorang hamba Tuhan yang melayani, namun kalau boleh saya katakan tidak melihat dimensi kehidupannya pelayanannya dalam keluarganya, sehingga ada pertentangan antara kehidupan pelayanan dan keluarganya, dia menjadi seorang jemaat yang melayani Tuhan tetapi tidak pernah hadir di hati anggota keluarganya, ironis bukan? Tuhan menjadikan kita sebagai jemaatNya tidak membuat kita harus melepaskan kehidupan dalam keluarga kita, justru keluarga adalah kelengkapan proses hidup yang Tuhan hadirkan untuk membentuk kita. Amin.