MENGHITUNG HARI

by samuelyasa


Mazmur 90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

Satu tahun baru saja berlalu dalam kehidupan kita, dan mulai hari ini kita menapaki kehidupan di tahun yang baru. Saya tidak tahu bagaimana cara kita menyikapinya, karena nampaknya setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk merespon tahun yang baru. Bisa jadi kita berada di antara pilihan-pilihan sikap di bawah ini:

Dengan optimis kita akan mengatakan bahwa tahun 2010 keadaan akan jauh lebih baik. Kesempatan dan harapan terbentang di depan kita. (Ya tentu saja, karena yang namanya harapan selalu berada di depan kita, bukan di belakang)
Nampaknya tahun 2010 tidak menjanjikan apa-apa, bahkan kondisi memburuk-lah yang akan terjadi, kenaikan bahan2 pokok di akhir tahun lalu tak kunjung pulih ke harga semula. Kita menghadapi dengan sikap pesimis.
Atau sikap apatis, apa yang akan terjadi . . . terjadilah, karena bagi kita tidak akan memberikan pengaruh terlalu banyak. Yang miskin tetap miskin, yang kaya tetap kaya, pergumulan yang terjadi tetap sama, tidak menjadi lebih ringan ataupun bertambah berat.
Yang menarik, setiap kali muncul bagaimana kita bersikap, toh dapat dilepaskan begitu saja dengan masa-2 yang telah kita lewati. Yang optimis akan mengatakan bahwa masa lalu lebih buruk; yang pesimis mengatakan masa lalu lebih baik; yang apatis berpendapat masa lalu = masa sekarang. Sejujurnya kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, lebih baikkah atau lebih sulitkah?

Penulis mazmur memberikan saran yang penting, yakni bersikap bijaksana dalam menjalani hidup, dengan sebuah resep – menghitung hari, yaitu belajar dari masa-masa yang telah kita lewati, belajar dari kegagalan dan keberhasilan, dan belajar untuk melihat intervensi Allah dalam masa-masa lalu, dan yakinlah bahwa IA yang tetap memegang hari esok kita.

Perenungan. Menurut anda apa makna kata-2 “Ajarilah kami?”