Memahami Kekosongan Hidup dari kata sia-sia


Sebab, kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, maka ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Inipun kesia-siaan dan kemalangan yang besar.                                             Pengkhotbah 2:21

Pengkhotbah tidak sedang pesimis terhadap hidup ketika menggunakan kata sia-sia. Yang dia ingin angkat adalah hidupku menjadi sia-sia karena dua hal ini yang menjadi motivasi di belakang semua yang kukerjakan: pertama, kalau menjadikan diri sebagai pusat, maka semua yang kita kejar itu akan terus menarik kita, nama, kesuksesan, semua untuk diri kita. Pkh.5:9 “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang…” Sia-sia disini tidak berarti yang kita cari dan kita kejar di dalam hidup ini bukan hal yang tidak berguna. Yang dimaksud oleh Pengkhotbah, semua itu akan menjadi sia-sia setelah engkau bangun, setelah engkau capai, semua itu untuk apa dan apa yang menjadi tujuan akhirnya. Kalau tujuan akhirnya adalah demi untuk dirimu menjadi pusat, satu kali semua itu akan menjadi sia-sia. Di dalam sejarah tidak ada yang bisa melampaui rekor Salomo dalam hal jumlah isteri dan gundiknya. Bahkan playboy-playboy Hollywood saja tetap masih kalah daripada Salomo. Yang terdaftar saja ada 700 isteri dan 300 selir. Apa yang men-drive manusia untuk punya lebih dari satu isteri? Seksualitaskah? Kebanggaankah? Kumpul uang, kumpul kekayaan, kumpul isteri, makin banyak makin rasa kurang dan tidak ada habis-habisnya. Pengkhotbah juga mengajak kita melihat beberapa refleksi. Refleksi yang pertama di pasal 6:1-2, kalau engkau jadikan hidupmu sebagai pusat, akan tiba kesia-siaan. Orang dikaruniai harta dan kekayaan berlimpah tetapi tidak dikaruniai kuasa untuk menikmatinya. Kematian bisa datang, ada hal yang tidak bisa dia kontrol, sudah susah-susah kumpulkan ternyata tidak bisa menikmati.Kita adalah manusia yang sangat terobsesi mau mengontrol segala sesuatu. Kita adalah manusia yang suka mengkalkulasi dan mengatur serta memprediksinya. Akibat dari ingin mengatur, akibat dari ingin mengontrol, akibat dari ingin bisa menggenggam segala sesuatu di tangan kita menyebabkan tidak ada habis-habisnya manusia selalu mencari kekuatan, kekuasaan dan power. Namun Pkh.3:1-15 memperlihatkan banyak hal engkau tidak bisa kontrol di dalam hidup kita.Tuhan lah yang berkuasa atas semuanya termasuk hidup kita.Sia-sia kalau akhirnya kita dapat semua tetapi mati terpisah dengan Tuhan.(ant).

DOA: Bapa ajarku untuk melakukan sesuatu hanya untukMu